JEJAK LANGKAH SEORANG ANAK TERMINAL “Dari Kerasnya Kehidupan Menuju Cahaya Keimanan”

LNI NEWS, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”
— (QS. Ad-Dhuha : 7)

Di tanah Kolaka, Sulawesi Tenggara, pada 17 Februari 1967, lahirlah seorang anak yang kelak ditempa oleh kerasnya kehidupan dan lembutnya kasih Tuhan. Ia bernama Abd. Malik, S.H, namun dalam keseharian akrab disapa DG. Ali.

Sejak kecil ia tumbuh di Kolaka, menapaki pendidikan dari SD, Tsanawiyah, hingga Aliyah. Dari masa kecilnya, agama telah menjadi akar yang meneguhkan jiwanya. Sebab hidup tanpa iman ibarat perahu tanpa arah, terombang-ambing di lautan dunia.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” — (QS. Al-Insyirah : 6)

Tahun 1989 menjadi titik hijrah dalam hidupnya. Ia meninggalkan kampung halaman menuju Bone dengan membawa luka, ketakutan, dan harapan yang belum bernama. Di Terminal Bajoe ia mengenal kerasnya hidup: perebutan penumpang, pertengkaran, dan perjuangan demi sesuap nasi. Namun di balik kerasnya dunia terminal, ia menemukan arti persaudaraan.
Sebungkus nasi dibagi berlima. Seteguk air menjadi penguat kebersamaan. Mereka lapar bersama, kenyang bersama, tertawa bersama, dan menangis bersama. Dari sana ia belajar bahwa kemiskinan tidak pernah mampu mengalahkan hati yang saling menjaga.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” — (QS. Al-Maidah : 2)
Di tengah perjalanan hidup itu, Allah mempertemukannya dengan seorang pengusaha besar bernama H. Udding, pemilik perusahaan angkutan Citra Sangir Talaud. Sosok itu menjadi guru kehidupan baginya: tegas dalam mendidik, bijak dalam menasihati, dan kuat dalam menghadapi dunia. Dari beliau, Ali belajar bahwa mencari rezeki bukan sekadar soal uang, melainkan tentang kehormatan, kerja keras, dan keberanian menjaga amanah hidup.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” — (QS. Ar-Ra’d : 11)

Tahun 1994 menjadi saksi lahirnya usaha Ekspedisi Putra Bombana, yang bergerak dalam jasa pengangkutan dan pengiriman barang. Dari terminal yang keras, ia menanam harapan dengan tangan yang tidak pernah lelah bekerja. Perlahan, hidup yang dahulu penuh keterbatasan berubah menjadi jalan perjuangan yang diberkahi.

Kemudian pada tahun 2016, ia kembali membangun usaha jasa konstruksi dengan nama CV. Cahyani Putri. Sebab baginya, manusia harus terus tumbuh seperti pohon yang akarnya menghunjam kuat ke bumi dan dahannya memberi manfaat bagi sesama.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
— (HR. Ahmad)

Pada tahun 2020, Allah kembali mempertemukannya dengan seorang sahabat sekaligus pembimbing, Mukhawas Rasyid, S.H., M.H. Seorang dosen, advokat, dan pegiat sosial yang membuka cakrawala pikirannya tentang hukum, kehidupan, dan agama. Dari banyaknya diskusi dan pertukaran pikiran, tumbuhlah keinginan untuk belajar hukum.

Ia pun melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Uniasman pada tahun 2020 dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2024 hingga meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.).

“Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” — (QS. Al-Mujadilah : 11)

Kerasnya kehidupan terminal tidak menghancurkannya. Sebaliknya, pengalaman itu menjadikannya pribadi yang kuat dan matang. Pondasi agama yang ditanam sejak kecil telah menjaga langkahnya agar tidak tenggelam dalam gelapnya dunia. Ia memahami bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang mampu ia tinggalkan.

Pada tahun 2026, lahirlah niat suci dalam hatinya untuk menghibahkan tanah miliknya demi membangun Masjid Al-Alim di Jalan Kesehatan, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone. Masjid itu dibangun bukan sekadar dengan batu dan semen, tetapi dengan doa, keikhlasan, dan harapan agar menjadi rumah cahaya bagi umat. Tempat manusia bersujud, saling menguatkan, dan kembali mengingat Tuhannya.

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” — (QS. At-Taubah : 18)

Baginya, rezeki bukan hanya untuk dinikmati di dunia, melainkan juga jalan menanam bekal menuju akhirat. Sebab dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan yang abadi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” — (QS. Al-Qashash : 77)

Maka perjalanan hidup Abd. Malik adalah kisah tentang seorang anak terminal yang tidak menyerah pada nasib. Tentang seorang manusia yang jatuh, bangkit, lalu berjalan mendekat kepada Tuhannya. Sebab hidup yang sejati bukanlah tentang banyaknya harta, melainkan tentang hati yang tetap tunduk kepada Allah di tengah luasnya dunia.

“Hidup bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi seberapa dekat hati kembali kepada Allah.”

Pos terkait